Kamis, 29 Maret 2012

Potensi Peningkatan Hasil Ubikayu Melalui Sistem Sambung Mukibat

Budi daya ubikayu sambung  sistem Mukibat telah lama dikenal di Jawa Timur, namun sejauh ini cara tersebut tidak berkembang. Dengan meningkatnya permintaan ubikayu sebagai bahan baku bioetanol, cara ini dikembangkan lagi oleh beberapa pemerintah daerah dan petani dengan harapan dapat meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Hasil survei usahatani menunjukkan belum adanya teknologi baku untuk ubikayu sambung di tingkat petani. Meskipun demikian, penanaman ubikayu sistem sambung Mukibat di Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Gunung Kidul dan di Lampung Tengah masing-masing menghasilkan 59 t, 72 t dan 59 t/ha dan keuntungan Rp 24.334.000,- (B/C ratio 3,0), Rp. 8.027.000,- (B/C ratio 1,3) dan Rp 22.315.000,- (B/C ratio 2,1).


Penyiapan bibit untuk ubikayu sambung sangat menentukan keberhasilan tanaman, oleh karena itu diperlakukan lebih khusus dibandingkan bibit ubikayu biasa (tanpa sambung). Terdapat tiga macam bibit di tingkat petani, yaitu:
a. Bibit sambungan baru.
Disiapkan batang atas ketela karet (Manihot glasiovii) dan batang bawah (varietas unggul maupun unggul lokal) yang berdiameter sama, tidak terlalu muda maupun tua (Gambar 1). Bahan untuk bibit yang sudah disiapkan hendaknya ditaruh di tempat yang teduh agar getahnya tidak mengering. Waktu yang tepat untuk penyambungan adalah pada musim kemarau pada bulan Agustus – September karena getahnya kental sehingga memudahkan proses penyambungan dan tingkat keberhasilannya tinggi. Bila penyambungan dilakukan pada musim hujan, getahnya encer sehingga menghambat proses penyambungan.

Gambar 1. (a) proses penyambungan batang atas dan batang bawah, (b) Penampungan setelah penyambungan (peletakan bibit sambung dibalik sehingga batang atas di bagian bawah), (c) Pemilihan bibit bertunas untuk ditanam.

b. Bibit Randan.
Bibit Randan adalah bibit  yang berasal dari bibit sambungan yang telah dipanen dan ditanam lagi. Penggunaan bibit Randan dapat diulang 3 – 4 kali sehingga disebut Randan-1 (pengulangan pertama), Randan 2 (pengulangan kedua) begitu seterusnya (Gambar 2). Atas dasar pengalaman petani hasil umbi yang terbaik adalah dari bibit Randan-1 dan Randan-2.

Gambar 2. (a) Bibit sambungan baru, (b) bibit Randan 1 (tahun ke-2), (c) bibit Randan 2 (tahun ke-3)

Cara penyiapan bibit Randan adalah dengan memotong sedikit bagian pangkal batang tempat kedudukan umbi dan memotong batang atas yang disisakan 4 – 5 mata tunas. Keuntungan  penggunaan bibit Randan adalah:
  1. Sambungan sudah kuat, tidak mudah patah
  2. Cepat bertunas
  3. Produksi lebih tinggi daripada sambungan baru
  4. Pertumbuhan tanaman lebih kokoh
  5. Tidak memerlukan biaya penyambungan

c. Bibit sambung batang atau sambung pucuk
Bibit sambung batang atau pucuk adalah bibit yang penyambungannya dilakukan di lapang pada tanaman yang berumur 2 -  3 bulan. Caranya, dengan memotong miring batang ubikayu yang telah tumbuh kemudian disambung dengan batang ketela karet.  Cara ini dinilai kurang efektif oleh petani karena mudah patah, butuh waktu yang lebih lama, dan memerlukan ketrampilan yang lebih baik dibandingkan sambung sistem Mukibat.
Cara budidaya ubikayu sambung sistem Mukibat di tingkat petani, di beberapa daerah masih sangat beragam sehingga produksinya juga beragam.  Seperti halnya dengan ubikayu biasa, setelah dilakukan pengolahan tanah sempurna kemudian tanah dibentuk sesuai dengan  cara penanamannya yaitu cara kenongan (guludan per individu tanaman) (Gambar 3a), guludan  memanjang (Gambar 3b) dan cara lubang tanam. Pada cara tanam kenongan dan guludan memanjang, jarak antar puncak guludan masih bervariasi yaitu  1,25 m x 1,50 m atau 1,5 m x 1,5 m sehingga populasi tanamannya berkisar antara 4.000 – 4.500 tanaman/ha. Sedangkan sistem lubang biasanya dibuat dengan jarak tanam 1 m x 1 m dan kedalaman 60 cm. Cara lubang hanya dilakukan pada penanaman di pekarangan.

Gambar 3. a. Penanaman stek ubikayu mukibat pada kenongan, b. Cara guludan memanjang.

Hasil percobaan di KP Genteng menunjukkan bahwa dengan cara sambung Mukibat, klon Adira-4, UJ-5, Kaspro dan lokal Dampit dapat mencapai hasil 90,4 t – 99,67 t/ha, sedangkan dengan cara biasa menghasilkan 54,3 t – 61,87 t/ha. Rata-rata kadar pati pada cara Mukibat lebih rendah dibandingkan cara biasa yaitu 20,8% dan 22,5%. Sedangkan kadar air umbi dan kadar HCN pada cara Mukibat cenderung lebih tinggi dibandingkan cara biasa. Kadar bahan kering dan kadar gula total relatif sama antara ubikayu sambung maupun ubikayu biasa.

Disarikan oleh Didik Sucahyono dari: Budhi Santoso Radjit, Nila Prasetiaswati, dan Erliana Ginting. 2010. Potensi Peningkatan Hasil Ubikayu melalui Sistim Sambung (Mukibat). Iptek Tanaman Pangan, 5 (2) 2010:197-209.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar